Kamis, 03 Januari 2013

Sepenggal Cerita dari Lawu


Ini adalah kali kedua ku melakukan mountaineering alias naik gunung. Sebelumnya, pada bulan Oktober kemarin aku telah melakukan pengenalan medan bersama WHO di gunung Merbabu. 

Destinasi kami kali ini adalah Gunung Lawu. Ada dua jalur pendakian untuk bisa mencapai puncak Lawu (3265mdpl). Pertama lewat Cemoro Sewu (Jawa Timur) dan yang kedua lewat Cemoro Kandang (Jawa Tengah). Untuk soal track, Cemoro Kandang memang lebih berat, namun lebih cepat. Maka dari itu, jalur Cemoro Sewu pun menjadi pilihan kami.

Rombongan kami kali ini berjumlah 12 orang. Terdiri dari 7 orang kelas 10, Aku, Sofi, Ima, Icha, Joshua, Dio dan Andika. 3 orang kelas 11, Mbak Vidy, Mbak Windy dan Mas Abi. Ditambah 2 pembina kami, Mas Untung dan Mas Bertus. Dibandingkan saat ke Merbabu kemarin yang diikuti 20 orang, peserta yang ikut mountaineering kali ini tergolong lebih sedikit.

Awalnya, kami memang sempat berfikir bahwa perjalanan kali ini tidak akan seseru ketika di Merbabu dulu. Tapi…berani taruhan deh, yang nggak ikut ke Lawu kali ini bakalan nyesel!


Dari halte MT Haryono kami naik TJ sampai ke Terminal Giwangan. Lalu berganti Bis Mira untuk tujuan Solo. Dari Terminal Solo kami naik bus ekonomi ke arah Tawangmangu. Barulah dari Tawangmangu kami naik angkutan untuk membawa kami ke basecamp di Cemoro Sewu.

Tas atau carrier kami yang bercover dietakkan dibagian atas mobil sementara yang tidak bercover diletakkan didalam mobil. Awalnya aku dan mbak Vidy sempat menyanksikan hal ini. Tas kami lumayan banyak dan berat (yg diletakkan diatas mobil) sementara jalan yang kami lewati menuju basecamp Cemoro Sewu penuh dengan tanjakan dan turunan. Aku takut tiba-tiba tas itu menggelinding atau jatuh dari atas mobil. dan ternyata mbak Vidy juga berpikiran begitu. Tapi berhubung bapak sopirnya bilang tidak apa2, yasudah kami percaya saja. Dan alhamdulillah apa yang ku takutkan tidak terjadi hingga kami tiba di basecamp :)

Adzan maghrib berkumandang ketika kami tiba di basecamp Cemoro Sewu. Beberapa dari kami ada yang sholat, sebagian lainnya ada yang makan, sekedar berjalan-jalan disekitar basecamp atau mungkin menghangatkan diri di dalam basecamp sambil menunggu hujan reda. Sekitar pukul 8 malam, kami mulai naik. Sebelumnya, kami melakukan pemanasan dan juga berdoa terlebih dahulu demi kelancaran perjalanan kami malam ini. 

Sebelum sampai di pos 1, ada 2 pos bayangan. Pos bayangan ini berbentuk bangunan sederhana, terbuka di sekelilingnya, namun ada atapnya. Karena malam semakin larut, kami akhirnya memutuskan untuk mendirikan dome di pos bayangan ke 2 ini. Di belakang pos ini ada Sendang Panguripan. Barang-barang dan carrier kami letakkan di dalam pos, sementara dome kami dirikan di seberangnya. Selesai dengan urusan dome, kami memasak untuk mengisi perut. Setelah perut terisi dan badan menjadi sedikit hangat, kami pun tidur. Mempersiapkan fisik untuk perjalanan selanjutnya esok hari.


sendang panguripan
pos Sendang Paguripan
Day-1
Esok paginya, setelah sarapan dan packing ulang, kami melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 memang yang paling jauh diantara pos-pos lainnya. Namun berada satu rombongan dengan orang-orang yang menyenangkan seperti mereka tidak membuat perjalanan ini terasa membosankan. Ada saja hal yang dapat membuat kami tertawa di sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami juga sempat rest sambil memakan bekal yang kami bawa atau hanya sekedar minum saja, sampai akhirnya melanjutkan perjalanan lagi ketika sudah mendengar suara Andika. Manusia satu itu kalau lagi jalan suka sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas pakai bahasa Payakumbuhnya itu, mana nggak kenal volume lagi.

Jadi, kalau dari jauh sudah terdengar suara nyaring Andika, acara rest kami seketika bubar. Kami kabur duluan atau membiarkan Andika untuk jalan dulu. Kejam ya? Memang, haha.



Di pos 2 kami sempat berhenti untuk makan siang. Menu makan siang kami kali ini mie gado-gado. Campuran antara mie goreng biasa, rasa rendang dan rasa cabe ijo yang rasanya sangat enak, menurut kami.  Setelah makan siang, sekitar pukul 1 kami melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya.

pos 2. waktu kita rest
Oh ya, di perjalanan menuju pos 2 tadi, kami sempat berhenti di beberapa batu besar. Pemandangan dari atas batu itu benar-benar bagus. Kami pun tidak melewatkannya untuk berfoto-foto sekaligus untuk rest.

ini waktu kita di batu2 besar


pos 3
deket pos 4
Pukul setengah lima kami akhirnya sampai di pos 5. Rencana kami untuk melihat sunset pun batal seketika karena cuaca yang sangat tidak bersahabat dan tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Akhirnya kami pun memutuskan untuk mendirikan dome di dekat pos 5. Cepat-cepat kami mendirikan dome, mengingat gerimis yang turun semakin lama semakin deras dan juga hawa dingin yang tak terhindarkan lagi. Selesai dome pertama didirikan, semua carrier dimasukkan ke dalam, besarta Aku, Mbak Vidy, Sofi dan Icak yang juga ikut masuk. Sementara Dio, Josua, Mas Abi dan Andika mendirikan dome yang satunya dibawah guyuran hujan. Dua dome akhirnya  selesai didirikan. Walau sudah di tempat yang agak ke dalam seperti ini, ternyata angin tetap saja bertiup kencang. Cover dome kami yang dipasang tidak begitu jauh dari dome pun jadi sering menempel di dome dan membuat air merembes masuk.

Akhirnya kami berempat pindah ke dome  yang lebih besar. Tidak  lupa kami  membawa serta  sleeping  bag dan matras. Di dalam dome, kami ber-8 berusaha menghangatkan diri dengan cara membentuk lingkaran, bedekatan, saling menyandarkan kepala dibahu teman dan berusaha menghangatkan diri di dalam sleepingbag yang sudah beralih fungsi menjadi selimut. Beberapa sleepingbag memang sengaja dijadikan selimut, dan sisanya kami jadikan alas.

Pukul 8 malam, kami dibangunkan oleh Joshua dan Mas Abi untuk makan. Sebenarnya, kami sudah sangat malas. Malas bangun dan malas bergerak dari tempat kami tidur. Namun, apabila malam ini kami tidak makan, besok pagi perut kami justru akan sakit. Maka dengan (banyak) paksaan, kami akhirnya mau makan. Setelah perut terisi, kami kembali tidur. Udara disini sangat dingin. Hujan turun dengan sangat deras, angin bertiup sangat kencang, sampai pintu dome kami yang tidak bisa ditutup dengan rapat membuat angin dari luar dengan mudah masuk ke dalam dome. Namun, berada bersama di satu dome seperti ini, setidaknya memberi sedikit kehangatan bagi kami.

Long....long....Night...
Dan malam kedua kami di Lawu ini pun terasa amat panjang. Sofi tiba-tiba membangunkanku yang kebetulan tidur disebelahnya. Dia menanyakan sekarang jam berapa? Aku mau sholat subuh, katanya. Kulihat jam yang tertera dilayar hpku. Ternyata baru jam 11.41. Yaampun, ini masih tengah malam! padahal kukira juga sudah hampir pagi karna kami merasa sudah tidur sangat lama. Akhirnya kami pun melanjutkan tidur kami. 

Sekitar pukul 2, terdengar suara berisik dari dome sebelah yang ternyata sedang memasak air untuk membuat minuman hangat. Aku yang tidak bisa tidur, akhirnya ikut mendengarkan keributan-keributan kecil yang mereka ciptakan.

para pembuat keributan
Aku nyenggol susu….
Wah, ho’o ki lho susuku dadi  tumpah to.
“Wah teles tooo…”

Jangan salah mengartikan dulu, itu maksudnya mereka tidak sengaja menyenggol nesting yang berisi minuman susu hangat. Lalu, susu itu tumpah dan membasahi bagian bawah dome. Ditengah-tengah keributan kecil itu, ada beberapa pendaki yang mendatangi dome kami. Mereka menanyakan jalan menuju puncak. Setelah diberitahu arah ke puncak, pendaki itu pun melanjutkan perjalanannya, 

Tak berapa lama setelah pendaki itu pergi, terlihat seseorang lewat di belakang dome sebelah. Aku yang berada di dekat pintu dome pun dapat melihat sedikit bayangannya. Tapi orang itu berlalu begitu saja. Tanpa salam atau sekedar menyapa kami. Jo mencoba memanggil Mas Untung dan Mas Bertus yang ternyata ada didalam dome sebelah. Lalu siapa sosok yang lewat tadi? Yang jelas itu bukan salah satu dari kami. Karena semuanya berada di dalam dome.

Dari dalam dome, Aku ikut mendengarkan percakapan mereka. Seketika bulu kudukku meremang teringat sesosok yang lewat di dekat dome kami. Lalu, siapa yang tadi lewat tadi? Kalo dia bukan pendaki yang tersesat itu, apa mungkin itu.....Ah sudahlah, daripada terus memikirkan hal seperti itu, aku memilih untuk melanjutkan tidurku.

PUNCAK! 
Pagi datang, kabut tebal belum juga menghilang. Matahari masih sama-samar terlihat di kejauhan. Seakan tidak mengerti bagaimana dinginnya pagi ketiga kami di Lawu ini. Gerimis sempat mengawali pagi ini, namun hal ini tidak menyurutkan niat dan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Selesai sarapan, kami memulai perjalanan.

tempat ngedome deket pos 5

Setelah 30 menit berjalan, melewati jalanan naik dan turun, merasakan suhu hingga tujuh derajat celcius, mengawali perjalanan ke puncak  dengan hujan gerimis dan kabut tebal, kami akhirnya bisa menginjakkan kaki di Puncak Hargodumilah.

Namun sayang, di puncak kami tidak bisa melihat pemandangan seindah yang kami fikirkan. Kabut tebal masih saja menyelimuti daerah puncak. Jarak pandang kami pun juga sangat terbatas. Namun itu semuai tidak menyurutkan semangat kami untuk mengabadikan momen kebersamaan di Puncak Hargodumilah. Tidak lupa, kami mengeluarkan bendera kebanggaan kami. Satu persatu gambar terambil dari semua kamera yang kami bawa. Puas berfoto-foto, kami akhirnya turun. 

Finally...
PUNCAK!!
closed like a family♥
Sebelum ke tempat ngedome, kami sempat mampir di warung yang ada di Sendang Drajat, memesan segelas jahe hangat untuk menghangatkan diri kami. Udara disini lebih dingin daripada di tempat kami ngedome. Namun berada didalam warung ini sungguh nyaman dan tentunya hangat. Membayangkan kalau saja semalam kami tidur disini. Setidaknya kami tidak harus berdingin ria semalaman di dalam dome. Selesai minum jahe, kami pun kembali ke tempat ngedome.

di perjalanan. pulang dari puncak..



Selesai makan siang, kami beres-beres. Packing ulang, merobohkan dome, membersihkan tempat sekitar dari sampah dan barulah setelah pos bersih, kami memulai perjalanan menuruni jalanan Lawu. 

Aku dan Sofi memilih menuruni jalanan Lawu dengan langkah bahagia. Kenapa langkah bahagia? Karena kami berdua berjalan dengan amat sangat lembat, emm lebih tepatnya santai hehe. Jadilah kami berdua menjadi salah satu bagian dari sweaper. 

di tengah perjalanan pulang
Pukul 5 kami akhirnya tiba di basecamp. Karna hari sudah terlalu sore ketika kami tiba di basecamp, Mas Untung memutuskan untuk bermalam di basecamp dan baru besok pagi melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Last Saturday Night w/ WHO
Malam ini sangat menyenangkan. Makan malam di warung depan basecamp memberi kesan tersendiri bagi kami. Selesai makan, bukannya kembali ke basecamp, kami malah berada di warung sampai sangat larut. Menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang banyak hal, nyanyi-nyayi, foto-foto, atau sekedar mendengarkan lelucon dari Dio dan Joshua yang mengundang gelak tawa kami semua. Karena merasa tak enak dengan pemilik warung, kami pun berpindah ke seberang jalan. Membeli semangkuk bakso lalu bermain kartu remi diatas tikar kecil yang disediakan penjual bakso. Tawa kami tak bisa terhindarkan seiring dengan adanya teman kami yang kalah atau dijahili. Termasuk aku, beberapa kali main selalu aku yang kalah. Huh, sial. Untung saja ini sudah sangat larut, jadi tidak ada jamaah yang terganggu dengan suara tawa kami karena tepat di sebelah kami berdiri sebuah masjid. Puas bermain beberapa ronde, kami pun memilih untuk berjalan-jalan di jalanan yang sudah lengang sekitaran basecamp untuk menghangatkan diri. Ketika malam semakin larut, dan rasa kantuk mulai menghampiri kami, kami pun kembali ke basecamp untuk beristirahat. Beruntung sekali. Malam minggu terakhir di tahun 2012 ini bisa kuhabiskan bersama teman-teman WHO di Lawu.

at warung depan basecamp

Paginya, setelah sarapan kami langsung pulang ke Jogja. Berdesak-desakan dalam mobil sampai terminal Solo. Dari Terminal Solo, kami naik Bis Mira sampai ke Jogja. Rencana awalnya memang begitu, tapi itu semua berubah sejak Bis Mira mem-php kita. Karena ketika tiba di Terminal Solo, Bis Mira ini bukannya mengangkut penumpang, tetapi malah jalan terus. Padahal semakin lama penumpang dengan tujuan ke Jogja juga semakin banyak.


good bye Lawu..
Sekali Gembel tetep Gembel!
Harapan kami yang tersisa tinggal Stasiun Balapan. Dengan angkot kecil, kami menuju Stasiun Balapan. Gerimis menemani perjalanan kami kali ini. Berdesak-desakkan di dalam angkot kecil yang harus membawa kami beserta carrier, berebut mendapatkan oksigen di dalam angkot, kepanasan..sedikit menyesakkan memang, tapi ini sungguh seru. Tidak berapa lama, kami tiba di Stasiun Balapan dan disambut dengan hujan yang turun dengan sangat deras. Karena pintu peron belum dibuka ketika kami tiba, kami akhirnya menunggu di emperan stasiun. Sementara kami duduk-duduk di emperan stasiun, beberapa lainnya ada giliran yang mengantri tiket dan juga membeli makan siang.

Waktu di terminal nunggunya di trotoar, sekarang di stasiun nunggunya di emperan depan stasiun....Gembel Everyhere tenan...

Setelah menunggu sekitar 2 jam di depan stasiun, tiket pulang ke Jogja akhirnya ada ditangan. Hore! Kecemasan kami tidak bisa pulang ke Jogja pun seketika sirna. Akhirnya kami bisa masuk dan duduk didalam stasiun. Sehabis makan siang, kami menghabiskan waktu dengan berfoto-foto di sekitar stasiun sambil menunggu kereta datang. Tidak peduli bagaimana tatapan aneh orang-orang di dalam stasiun ke arah kami. Yang penting kami senang. Daripada hanya duduk-duduk dan malah membuat kami semakin stres, foto-foto seperti ini justru memberi kebahagiaan tersendiri bagi kami. 

kyaaaaaa
Senam dulu yuk=))
Sekitar pukul 3, kereta datang. Setelah menunggu cleaning service membersihkan gerbong kereta, kami pun masuk ke dalam kereta. Alhamdulillah, kami semua dapat tempat duduk dan berada di dalam satu gerbong yang sama. 1 jam kemudian akhirnya kami tiba di Stasiun Lempuyangan, Jogja. Senang sekali rasanya bisa kembali menginjakkan kaki di Jogja. Tersenyum lebar, karena sebentar lagi akan kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarga. Terhindar dari homesick. Dan tentunya, dari mimpi buruk yang menghantui kami beberapa jam yang lalu karena takut tidak dapat kembali pulang ke rumah.

Selamat tinggal Lawu. Terimakasih telah memberikan pengalaman yang luar biasa kepada kami. Terimakasih juga telah memberikan kenangan manis yang tidak akan pernah kami lupakan. Bisa mengenal orang-orang yang menyenangkan seperti kalian sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bagiku. Tidak pernah membayangkan perjalanan ke Lawu ini akan sebegitu menyenangkannya. Terimakasih teman-teman, terimakasih WHO, untuk 4 hari yang sungguh berkesan ini. Terimakasih untuk kebersamaan yang telah kalian berikan. Menghabiskan hari-hari di akhir tahun 2012 bersama kalian di Lawu, laper bareng, makan bareng, tidur bareng, ketawa bareng, capek bareng sampai kedinginan bareng, benar-benar momen berharga yang tidak akan kulupakan. Sekali lagi terimakasih teman-teman, untuk semuanya☺

can't wait for next hiking:p


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent News