Sabtu, 16 November 2013

Merbabu Part 2

Selamat bermalam minggu!
Kembali lagi dengan cerita dari gunung nih, hehe. sekitar 3 minggu yang lalu, aku dan teman-temanku kembali melakukan perjalanan ke merbabu. Ya, ini memang agenda rutin kami setiap tahunnya. Melakukan pengenalan medan bagi anggota baru di WHO. Tahun ini, jumalah peserta yang ikut pengenalan medan jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya. Alhasil, kami harus (sedikit) berdesakan di dalam bus. Bicara soal perjalanan kami ke merbabu, ada hal menarik yang ingin ku ceritakan. Hehehe ini sebenarnya hanya semacam ilusi belaka atau apalah namanya itu. Tapi kami merasakan seperti menonton film 3D. Bukan menonton sebenarnya, tapi seperti kenyataan(?) jadi begini, ketika sampai didaerah muntilan (kalau tidak salah) jalan yang kami lewati mengalami kemacetan yang cukup panjang. supir bus pun akhirnya memilih untuk melewati jalan pintas. Tak lama kemudian, hujan turun. Awalnya hanya gerimis, namun lama-kelamaan menjadi semakin deras. jalanan yang kami lewati juga semakin.....menantang! semakin masuk, jalanan semakin sempit. bahkan di kanan kiri terdapat dahan yang sedikit menghalangi pandangan kami. ketika bis kami melaju, dedahanan tersebut tersibak dan memunculkan efek 3D bagi kami. terutama aku yang duduk di kursi paling depan. beberapa kali kami selalu berusaha untuk melindungi diri karena takut terkena dedahanan tersebut. padahal, kami juga tidak akan mungkin dahan tersebut mengenai kami wkw.



foto diatas adalah gambaran perjalanan kami pada saat melewati jalan pintas. awalnya hanya gerimis kecil, lalu semakin deras dan akhirnya menjadi hujan lebat. merasakan bagaimana rasanya berada seperti pada saat menonton film 3D. hihihi, seru sekali!

bicara soal pengenalan medan tahun ini, bisa dibilang jauh lebih enak dibanding tahun lalu. dimana kami harus menggendong carrier dari gapura hingga basecamp, kehujanan sewaktu dalam perjalanan dari basecamp hingga pos 2, sampai terpeleset oleh akar pohon. kalau tahun ini, udah tas diangkut pake kol, langitnya terang benderang lagi, purnama vroh! sampe-sampe nggak perlu pake senter pas ditengah hutan. coba kalian ngerasain penderitaan kita tahun lalu, pas pulang pasti udah pada kewerrr, nggak kayak kemaren-_-

oke, ini dia beberapa fotonya:>

ramenyaaaa
with yelma{}


sopong



:3


rasanya pengen disini terus. sabana<3
sayang nggak ada foto pas di bukit bintang. padahal pemandangannya keren banget. lebih kerennn banget dibandingin sama yang di wonosari :p apalagi langitnya terang gitu, bulan purnama, walaupun nggak banyak bintang di langit, tapi tetep aja keren hehehe. selamat bertemu di cerita-cerita selanjutnya;)

guten abend. 

Minggu, 03 November 2013

,


Kata-kata diatas aku kutip dari salah satu percakapan yang terdapat dalam novel Tere Liye yang berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Ada banyak sekali kutipan dalam novel itu yang sangat menarik. Terutama mengenai masalah hati. Karena memang alur cerita di novel itu mengisahkan tentang percintaan dua anak manusia yang penuh dengan teka-teki kehidupan. Novel itu sangat menarik, kamu tidak akan bisa menebak bagaimana akhir cerita kisah di novel ini seperti kebanyakan novel pada umumnya yang dapat kamu tebak dengan mudah setelah kamu membaca awal ceritanya bahkan hanya sinopsisnya. Tapi yang ini berbeda -seperti novel Tere Liye lainnya- kamu harus membacanya dari awal hingga akhir cerita. Karena akan ada banyak sekali pelajaran yang kamu dapatkan dari kisah di novel itu. Tentang kehidupan, pengorbanan, dan tentunya tentang masalah hati. Sebelumnya aku juga sudah pernah mem-posting tentang kutipan-kutipan yang aku dapat dari novel itu. Kalau kalian ingin tahu lihat saja disini :)

Bukan isi novelnya yang ingin kubahas disini. Tapi kutipan kalimat diatas yang menarik perhatianku dan membuatku ingin menulis sesuatu di blog ini. Hmm oke, mari kita mulai. Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi menurutku kutipan diatas itu memang benar sekali. Kenapa aku bisa bilang begitu? Apa karena aku mengalaminya sendiri? 

Jujur saja, sejak aku membaca kutipan tersebut di novel itu, aku mulai 'mempraktekkannya'. Mungkin bagi kalian hal ini terdengar bodoh. Teapi aku tidak peduli. Aku membiarkan semua ini mengalir saja seperti apa adanya. Let it flow aja. Yaa intinya jalanin aja apa yang ada. Nggak pernah berniat buat ngambil jalan pintas. Toh belum tentu hasilnya sesuai sama apa yang kita harapkan bukan? Ibaratnya, kalau kamu melakukan sesuatu dengan terburu-buru, entah itu apa saja, hasilnya juga akan kurang baik bukan? Bahkan mungkin akan jauh dari harapanmu. Nah, itu juga yang ingin dijelaskan oleh Tere Liye dalam kutipan tersebut. Intinya, jalani saja kehidupanmu ini seperti apa adanya. Biarkan ia mengalir laksana sungai yang selalu menuju ke muara. Pada waktunya nanti, jika memang sudah saatnya, aliran air itu juga akan tiba di muaranya. Jangan terburu-buru atau bahkan berusaha mengambil jalan pintas untuk bisa cepat tiba di muara itu. Karena belum hasil yang kau dapatkan akan sesuai dengan apa yang kau inginkan.

Seperti yang aku alami. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Di suatu lingkungan yang sama. Yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mengikuti perkumpulan yang sama. Berada dalam banyak kegiatan dan event yang sama. Berdiri berdekatan. Berfoto bersama. Aku bahkan tidak pernah menyangka ini akan terjadi sebelumnya. Entah ini memang takdir atau hanya kebetulan semata. Entah. 

Aku akan tetap mengikuti aliran sungai ini. Membiarkan perahu kertasku berlayar mengikuti aliran cerita kehidupanku hingga pada saatnya nanti ia akan menemukan suatu tempat untuk berlabuh. Hey, bicara soal perahu kertas, masih ingatkah kau dulu pernah memberiku sebuah perahu kertas? Ah, mungkin kau sudah lupa. Atau mungkin..... kau tidak ingat sama sekali? Tidak apa:)


Selamat Malam. 
Aku tidak berharap kamu tahu soal ini. 

Sabtu, 02 November 2013

miss.

halo, aku baru saja selesai membaca tulisan di blog milik kakak kelasku, mbak vidy namanya. entah apa yang mendorongku untuk tiba-tiba membaca beberapa postingan di blog itu yang menceritakan tentang perjalanan kami. ya, perjalanan kami di lawu. sudah hampir setahun yang lalu rupanya. tepatnya di hari-hari akhir bulan desember. setelah membaca beberapa postingan yang disertai foto tersebut, perasaan ini tiba-tiba saja muncul. kangen. iya. aku kangen. kangen sama kebersamaan kita waktu di lawu. nggak tau kenapa, sampe sekarang masih sering keinget aja sama perjalanan waktu itu. kebersamaan kita, keakraban kita, canda, tawa, ah benar-benar membuatku rindu. aku masih ingat perjalanan kita ke lawu. bergonta-ganti bis, kehujanan, kepanasan saat menunggu TJ, lalu saat kita memulai perjalanan melewati jalanan hingga mencapai puncak lawu, menyuruh andika berjalan duluan agar kita tidak terganggu dengan suaranya, kedinginan, kelaparan, berbagi sleeping bag, disuapin sama joshua, lalu saat kita pulang, menunggu lama di terminal, tidak dapat bis, berdesakan memenuhi angkot, menunggu tiket kereta sampai bosan, hingga kebahagiaan yang terpancar saat kita berfoto bersama di stasiun balapan, sampai akhirnya kereta datang dan kita tertidur di dalam kereta karena kelelahan. ah, benar-benar perjalanan yang mengesankan, dan tentunya tidak akan terlupakan. jujur saja, sepulang dari lawu, aku baru benar-benar merasakan memiliki 'keluarga' yang utuh bersama kalian. tidak hanya hubungan pertemanan antara kakak kelas-adik kelas dan alumni saja. namun hubungan yang lebih erat dari itu, yaitu keluarga. semoga, hubungan ini bisa lebih erat, saat ini, esok, lusa, dan selamanya, amin. 
selamat malam, aku benar-benar merindukan kebersamaan kita. dan aku harap, aku bisa kembali melihat senyum bahagia mengembang dari bibir kalian seiring dengan kebersamaan yang kita lewati bersama. :)

:")


Recent News