Minggu, 03 November 2013

,


Kata-kata diatas aku kutip dari salah satu percakapan yang terdapat dalam novel Tere Liye yang berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Ada banyak sekali kutipan dalam novel itu yang sangat menarik. Terutama mengenai masalah hati. Karena memang alur cerita di novel itu mengisahkan tentang percintaan dua anak manusia yang penuh dengan teka-teki kehidupan. Novel itu sangat menarik, kamu tidak akan bisa menebak bagaimana akhir cerita kisah di novel ini seperti kebanyakan novel pada umumnya yang dapat kamu tebak dengan mudah setelah kamu membaca awal ceritanya bahkan hanya sinopsisnya. Tapi yang ini berbeda -seperti novel Tere Liye lainnya- kamu harus membacanya dari awal hingga akhir cerita. Karena akan ada banyak sekali pelajaran yang kamu dapatkan dari kisah di novel itu. Tentang kehidupan, pengorbanan, dan tentunya tentang masalah hati. Sebelumnya aku juga sudah pernah mem-posting tentang kutipan-kutipan yang aku dapat dari novel itu. Kalau kalian ingin tahu lihat saja disini :)

Bukan isi novelnya yang ingin kubahas disini. Tapi kutipan kalimat diatas yang menarik perhatianku dan membuatku ingin menulis sesuatu di blog ini. Hmm oke, mari kita mulai. Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi menurutku kutipan diatas itu memang benar sekali. Kenapa aku bisa bilang begitu? Apa karena aku mengalaminya sendiri? 

Jujur saja, sejak aku membaca kutipan tersebut di novel itu, aku mulai 'mempraktekkannya'. Mungkin bagi kalian hal ini terdengar bodoh. Teapi aku tidak peduli. Aku membiarkan semua ini mengalir saja seperti apa adanya. Let it flow aja. Yaa intinya jalanin aja apa yang ada. Nggak pernah berniat buat ngambil jalan pintas. Toh belum tentu hasilnya sesuai sama apa yang kita harapkan bukan? Ibaratnya, kalau kamu melakukan sesuatu dengan terburu-buru, entah itu apa saja, hasilnya juga akan kurang baik bukan? Bahkan mungkin akan jauh dari harapanmu. Nah, itu juga yang ingin dijelaskan oleh Tere Liye dalam kutipan tersebut. Intinya, jalani saja kehidupanmu ini seperti apa adanya. Biarkan ia mengalir laksana sungai yang selalu menuju ke muara. Pada waktunya nanti, jika memang sudah saatnya, aliran air itu juga akan tiba di muaranya. Jangan terburu-buru atau bahkan berusaha mengambil jalan pintas untuk bisa cepat tiba di muara itu. Karena belum hasil yang kau dapatkan akan sesuai dengan apa yang kau inginkan.

Seperti yang aku alami. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Di suatu lingkungan yang sama. Yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mengikuti perkumpulan yang sama. Berada dalam banyak kegiatan dan event yang sama. Berdiri berdekatan. Berfoto bersama. Aku bahkan tidak pernah menyangka ini akan terjadi sebelumnya. Entah ini memang takdir atau hanya kebetulan semata. Entah. 

Aku akan tetap mengikuti aliran sungai ini. Membiarkan perahu kertasku berlayar mengikuti aliran cerita kehidupanku hingga pada saatnya nanti ia akan menemukan suatu tempat untuk berlabuh. Hey, bicara soal perahu kertas, masih ingatkah kau dulu pernah memberiku sebuah perahu kertas? Ah, mungkin kau sudah lupa. Atau mungkin..... kau tidak ingat sama sekali? Tidak apa:)


Selamat Malam. 
Aku tidak berharap kamu tahu soal ini. 

2 komentar:

  1. boleh nge share ga inii ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh, silahkan. tapi tlg sertakan sumber ya. terimakasih:)

      Hapus

Recent News